IBU BUKANLAH PEMBANTU!

Masih segar dalam ingatan kita betapa ibu sangat menyayangi kita dalam setiap waktunya. Tak pernah sedikitpun meminta pamrih pada anaknya. Ibu menaruh harapan besar dan sekuat tenaga membimbing akhlak anaknya demi masa depan buah hatinya tersebut.

Ada saat-saat ibu mengalah tanpa sepengetahuan kita seperti :

“Nak, ayo makan dulu ibu suapin.” Padahal kita sama sekali tak tahu pada saat itu ibu menahan lapar demi mengisi perut anaknya dahulu. Atau saat kita sakit demi menjaga kita ibu rela tidak tidur semalam mengompres kita dan berkali-kali mencium kening kita untuk memastikan kita baik-baik saja. Atau sewaktu hasil ulangan kita buruk dan diketahui oleh ayah, ibu berusaha membela kita mati-matian hingga membuat hatinya terluka karena merasa gagal mengajari anaknya.

Saat terlambat pulang sekolah ibu memarahi kita habis-habisan sebelum ayah pulang. Bukan karena sengaja mencari waktu agar bisa marah-marah pada anaknya dengan leluasa, tapi karena ibu tak ingin ayah tau dan kecewa atas tingkah laku anaknya.

Ibu selalu mencoba melaksanakan perannya sebagai ibu dan seorang istri. Tentu peran yang sangat sulit. Ia harus selalu memperhatikan dan menjaga anaknya selama ayah bekerja. Dan ia juga harus berusaha membuat ayah bangga dengan keluarga kecilnya agar tidak kecewa karena membanting tulang demi keluarga yang ia pimpin.

Saat ayah mengetahui anaknya pulang malam, tahukah kita siapa yang selalu disalahkan? Ibu… Saat ayah memarahimu atau bahkan menamparmu dan kau memutuskan lari kekamar, siapa orang yang kemudian dimaki bertubi-tubi atas tanggungjawabnya? Ya, ibu….

Hingga anaknya beranjak dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Dengan ikhlas ibu menawarkan diri “Nak kalau kamu tetap ingin menjadi wanita karir tidak usah menyewa jasa pembantu, biar ibu saja yang  membantumu. Uangnya bisa dipakai buat yang lain. Lagipula ibu sepi dirumah.” Lalu apa jawabanmu? “Tapi bu, ibukan sudah tua. Nggak apa-apa bu biar saya cari pembantu saja.” Lalu untuk meluluhkan hatimu ibu berkata “Biar ibu saja.  Ibu ingin selalu bersamamu dimasa tua ibu.”

Minggu pertama, kedua, ketiga semua berjalan menyenangkan bagi ibu. Kau masih memperlakukannya secara wajar. Tapi semua berubah setelah berapa lama. Saat kau pulang dan mendapati tubuh tua itu terbaring ditempat tidur, dengan emosi memuncak kau berkata “Ibu kesini jam berapa sih? Aku pulang belum masak, lantai belum disapu. Kalau suamiku pulang rumah masih begini gimana? Dari seharian ibu ngapain aja?”

Tahukah kau perkataanmu bagaikan ucapan syetan yang sungguh tak pantas kau lontarkan pada wanita yang melahirkanmu itu? Namun dengan menahan sakit hatinya ia berkata “maaf, tadi ibu ketiduran habis ngajak tidur anakmu. Tadi dia rewel.” bahkan setelah kau sakiti dengan ucapan kejammu pun ibu masih mau mengalah dan MINTA MAAF.

Yang lebih parah lagi saat itu ibu tak sengaja memecahkan vas bunga kesayanganmu. “Ya ampun! Ibu tau nggak ini vas bunga baru dibeli satu minggu. Ibu nggak akan sanggup menggantinya. Uang aja aku yang ngasih. Kalau bukan dariku ibu makan dari mana?” Naudzubillahimindzalik…

Tak sadarkah kau bahwa yang kau perlakukan seperti itu adalah ibumu. Orang yang membuatmu terlahir kedunia ini dengan taruhan nyawanya. Masihkah kau tega menambah deritanya setelah sejak kecil ia melindungi dan menjagamu hingga mungkin ia rela menahan lapar demi memenuhi keinginan anaknya. Menyisakan jatah belanja dan mengurangi porsi lauk untuk dirinya sendiri. Tahukah kau tiap ayah makan dan bertanya “Kok lauknya cuma sedikit bu?” dengan bijak ibu menjawab “ia tadi ibu udah makan kebanyakan, jadi sekarang bosan.” Tahukah kau itu hanya caranya memberi kasih sayang pada suami dan anaknya? Karena jika ia berkata “Nggak apa-apa yah buat ayah sama anak-anak saja.” Sudah pasti sang ayah memindahkan isi piringnya ke piring ibu untuk membahagiakannya.

Lalu apakah kita masih bisa membandingkan harga vas bunga itu dengan jasa seorang ibu? Masihkah kita memperlakukannya seperti pembantu? Masihkah kau lebih memilih menyimpan uangmu rapat-rapat daripada benar-benar menyewa seorang pembantu untuk menggantikan ibu yang sudah tua renta dan menderita diusianya yang semakin senja?

Jangan pernah membuat dirimu menyesal setelah kehilangan sosok ibu sebelum kau membahagiakannya…. IBU BUKANLAH PEMBANTU!